Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Wednesday, August 26, 2015

PERSPEKTIF: Kondisi Perekonomian Dunia terhadap Indonesia

Menarik.
Share sdikit mengenai kondisi market terkini mengutip penjelasan dari perspektif ekonom:


Rupiah akhir pekan lalu nyaris menembus level psikologis baru, Rp14.000 per US$. Sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) juga berada pada level yang rendah 4.335. Situasi ini lekas memantik kepanikan. Orang pun lantas menebak-nebak, bahwa ini merupakan ulangan peristiwa krisis 1998 yang traumatik itu.

Sesungguhnya, bukan cuma kita yang panik, namun praktis seluruh dunia. Depresiasi bukan hanya terjadi pada rupiah, namun juga ringgit (Malaysia) dan baht (Thailand). Kedua mata uang tersebut mengalami pelemahan besar, bahkan mencapai level terburuk sesudah 1998.

Begitu pula indeks bursa saham. Bukan cuma di negara-negara emerging markets yang bursanya rontok, namun bahkan di New York indeks Dow Jones jatuh di level yang amat rendah 16.459. Padahal, beberapa waktu yang lalu, indeks saham New York pernah mencapai 18.300, atau jauh lebih tinggi daripada sebelum krisis subprime mortgage2008-2009.

Apa yang menyebabkan kepanikan ini?Pertama, secara tak terduga, pemerintah China melakukan devaluasi mata uangnya, yuan. Sebenarnya, sudah sejak lama pemerintah China secara sengaja membuat yuan lemah, atau setidaknya ‘tidak mengizinkannya berada level yang semestinya kuat.’ Sudah lama pula pemerintah Amerika Serikat (AS) melakukan lobi terhadap pemerintah China agar mau membuat yuan kuat.
Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terkuat nomor dua di dunia sesudah AS, mata uang yuan mestinya cenderung kuat. Namun kenyataannya, pemerintah China sepertinya ‘menikmati’ benar yuan yang lemah, demi mendorong ekspor. Pemerintah China bergeming, mereka tetap tidak mau mendorong yuan agar menguat sesuai mekanisme dan kehendak pasar.

Belakangan ini China justru mulai keteterandengan daya saingnya. Karena upah buruh yang terus naik, serta harga tanah yang naik di daerah industrinya (kota-kota besar di sepanjang pantai timur), China mulai mengalami perlambatan ekspor dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Data terakhir menunjukkan, pertumbuhan ekonomi mereka hanya 6,9%, atau di bawah ekspektasi antara 7% hingga 7,5%.
Karena mereka tidak mungkin menekan upah buruh dan harga tanah, maka satu-satunya solusi yang cepat adalah melakukan devaluasi yuan. Kebijakan ini kemudian memicu kekhawatiran akan terjadinya ‘perang kurs’ (currency wars) di seluruh dunia. Untuk menghadapi situasi buruk ini, maka para pemilik modal di seluruh dunia segera mencari aman. Caranya? Segera memindah dananya menjadi dolar AS. Akibatnya, segera terjadi kenaikan permintaan terhadap US$, penjualan surat-surat berharga di pasar modal, serta aliran dana keluar (capital outflows) dari seluruh dunia ke AS.

Kedua, anjloknya harga minyak juga menambah runyam masalah. Harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) pada akhir pekan lalu hanya US$40,45 per barel, sedangkan jenis Brent cuma US$45,46 per barel. Penurunan harga ini terutama disebabkan oleh produsen besar Arab Saudi yang menyatakan berani ‘perang harga’ melawan produsen-produsen lain, karena ongkos produksinya paling murah di dunia (hanya US$10 per barel).

Sementara itu, juga terungkap informasi bahwa biaya produksi minyak di AS (shale oil) ternyata juga murah, diperkirakan cuma US$20 per barel. Jadi, jika harga minyak dunia dipatok murah US$40 per barel sekalipun, Saudi dan AS masih mempunyai margin yang cukup.

Kombinasi antara currency wars dan oil warsmembuat pemilik modal di seluruh dunia panik, dan memilih main aman dengan cara ‘memegang’ mata uang dolar AS. Begitulah kira-kira penjelasan kenapa dolar AS begitu diminati orang, serta mengapa rupiah dan mata uang dunia lainnya terperosok dalam.
Namun sesungguhnya hal itu bukanlah ekuilibrium permanen. Lihatlah, bahwa indeks harga saham di New York pun jatuh cukup dalam. Artinya, para investor dunia pun menyiratkan keraguan, apakah masa depan perekonomian AS benar-benar bersinar terang, sehingga mereka layak memegang dolar AS dalam jangka panjang?

Dengan kata lain, apakah AS juga akan senang jika mata uang US$ terus menerus menguat? Saya rasa tidak. Mereka pun akan kerepotan jika US$ terlalu kuat (overvalued), terlebih lagi mereka akan menghadapi yuan yang dipatok terlalu lemah (undervalued). Hasilnya, defisit perdagangan AS terhadap China akan semakin parah. AS pasti tidak menghendaki ini terjadi.

Jadi, sebenarnya kurs US$ yang terlalu kuat dan kurs mata uang lain terlalu murah, termasuk Indonesia, saya yakin bukanlah hal yang akan bersifat permanen. Ini hanya bersifat sementara, karena pasar terlalu panik menyikapi currency wars dan oil wars. Jika berpikir lebih tenang dan jernih, kepanikan yang sedemikian besar itu tidaklah perlu. Ekuilibrium yang lebih sehat bagi semua pihak (AS, China, dan seluruh dunia) bakal ditemukan.

Apakah Indonesia akan terperosok ke lubang krisis serupa 1998? Tidak. Situasinya berbeda. Pada 1998, rupiah memang mencapai Rp15.000 per US$, bahkan pernah menyentuh Rp17.000 per US$ selama dua hari pada Januari 1998. Kurs sekarang yang nyaris Rp14.000 per US$ memang sudah hampir mendekati level tersebut. Namun kondisi fundamentalnya lain.

Pada 1998, semua bank praktis insolvent dan bangkrut. Hampir semua bank membukukan kerugian besar yang memakan modal (equity), hingga modalnya negatif. Hal ini disebabkan oleh kombinasi antara tingginyanonperforming loan (NPL) dan negative spread (suku bunga deposito 60%-70% versus suku bunga kredit cuma 24%). Saat ini kondisinya berbeda. Bank-bank memang kinerjanya menurun, labanya stagnan atau turun, tapi masih ada beberapa bank yang labanya bisa naik.

Dari sisi permodalan, semuanya masih kuat dengan CAR rata-rata 20%, dibandingkan CAR negatif pada 1998. Kredit macet memang beranjak naik, namun masih di level 3%. Pertumbuhan kredit memang melambat, namun tetap ada pergerakan. Bank-bank juga sudah melalukan stress test, di mana pada umumnya masih mampu menghadapi kurs rupiah Rp15.000 per US$.

Apa yang bisa dilakukan sekarang? Bank Indonesia (BI) kian memperketat penggunaan US$. Sebelumnya, setiap pembelian valuta asing hingga US$100.000 harus disertai bukti transaksi yang memadai (underlying documents). Angka ini kini diperketat menjadi US$25.000. Banyak orang yang salah interpretasi, bahwa BI membatasi transaksi valas. Bukan begitu. Transaksi pembelian valas tetap diizinkan, namun harus disertai bukti bahwa itu benar-benar dilakukan, bukan cuma orang yang berspekulasi.
Pemerintah juga perlu mempertajam prioritas belanja yang menggunakan valas, agar cadangan devisa yang sudah tertekan menjadi US$107 miliar dapat dihemat. Proyek-proyek pemerintah yang haus devisa terpaksa harus dikaji ulang untuk sementara, dijadwalkan kembali.

Sementara itu soal BI rate, rasanya tidak perlu diubah dulu. Jika melihat urgensi bahwa rupiah tertekan, maka BI ratememang perlu dinaikkan. Namun jika itu dilakukan, hanya akan lebih menyulitkan industri perbankan dalam upaya mendorong ekspansi kredit. Tanpa kenaikan suku bunga pun ekspansi kredit cenderung menukik turun. Bagaimana pun juga industri perbankan tetap perlu menjaga momentum agar tahun ini pertumbuhan ekonomi tetap bisa mencapai 5%.

Saya tetap percaya masa-masa sulit ini dapat kita lalui. Syaratnya, para pelaku ekonomi di pasar finansial dan modal janganlah panik secara berlebihan. Kepanikan tidak memberi manfaat apa pun, selain menyebabkan perekonomian kian terbenam.

Penulis: A. Tony Prasetiantono, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM

Saturday, February 28, 2015

Asal Mula Fenomena Gaun Biru - Hitam, Putih - Emas dan Penjelasan Ilmiahnya



Dunia maya, terutama situs jejaring sosial saat ini tengah diramaikan dengan sebuah foto gaun. Para selebriti dunia pun ikut mengunggah foto gaun tersebut di akun Twitter mereka. Gaun ini menjadi spesial bukan karena harga atau perancangnya. Gaun tersebut ramai diperbincangkan karena warnanya yang menimbulkan perdebatan.

Foto gaun tersebut pertamakali diunggah oleh akun Tumblr bernama Swiked milik seorang Talent Manager bernama Sarah, pada Rabu (26/2/2015). Dia mengajukan pertanyaan sederhana: apa warna dari baju ini?

Selain satu pertanyaan sederhana itu, Swiked juga curhat mengenai kebingungannya saat melihat gaun tersebut. Dia sampai berdebat dengan temannya karena mereka berbeda pandangan soal warna gaun itu. Swiked merasa gaun tersebut berwarna biru-hitam, sedangkan temannya menyebut warna gaun adalah emas dan putih.

"Guys please help me - is this dress white and gold, or blue and black?," begitu kemudian Swiked menulis.

Pertanyaan Swiked dan foto gaun yang diunggahnya itu kemudian menyebar ke Twitter, Facebook dan Path. Orang-orang mencoba menjawab warna gaun tersebut berdasarkan versi mereka. Di antara banyak orang itu, para selebriti pun ikut serta menebak warna gaun tersebut.

Sarah, atas dan Caitlin, bawah
Awal mula dari perdebatan ini dimulai ketika Caitlin yang merupakan penyanyi berusia 21 tahun asal Skotlandia mengunggah foto baju tersebut setelah melihat rekan-rekannya berdebat soal warna pakaian di foto itu.
Perdebatan selanjutnya mereda. Akan tetapi Caitlin McNeill yang merupakan teman dekat kedua mempelai memposting kembali foto tersebut ke Tumblr beberapa hari setelah pernikahan yang berlangsung Sabtu pekan lalu di Pulau Colonsay, Skotlandia. Sejak itu, kehebohan mulai melanda dunia online.

Caitlin pada akhirnya mengungkap bahwa faktanya baju itu merupakan perpaduan warna biru dan hitam.

"Aku ke pernikahan dan ibu mengenakan gaun itu," kata McNeill. "Jelas itu biru dan hitam."

"Banyak orang kebingungan seperti orang gila karena tak bisa menemukan apa warna sebenarnya dari dress itu. Kami hampir tak jadi manggung gara-gara asik membicarakan warna dress ini," ungkap Caitlin.

Gaun tersebut memang biru dan hitam. Dalam sebuah gambar, gaun yang sedang dipakai oleh Cecilia Bleasdale, ibu dari pengantin wanita dengan jelas mengenakan gaun biru hitam, dan bukan putih emas.


Foto tersebut sebenarnya merupakan hasil jepretan Cecilia Bleasdale. Ketika sedang berpikir baju apa yang cocok dikenakan pada hari pernikahan putrinya, dia memilih untuk mengenakan gaun seharga 50 pounds (sekitar Rp 1 juta) dari Roman Originals, dan memfoto baju itu .

Cecilia pun mengirim foto itu ke anaknya yang akan menikah, Grace. Selanjutnya, Grace mengirim foto itu ke tunangannya, Kier Johnston. Grace dan Kier berbeda pendapat soal warna baju yang mereka lihat, hingga Grace minta pendapat orang-orang lewat internet.
Dia mengunggah foto itu ke Facebook dan ternyata teman-temannya juga berdebat soal warna baju tersebut. Ada yang yakin itu biru-hitam, ada juga yang mengira putih-emas.
Berdasarkan foto terbaru dari Roman Originals, gaun tersebut diidentifikasi sebagai biru hitam. Perusahaan fashion ini juga membuat gaun berwarna putih, merah muda, dengan berenda hitam. Namun, tidak ada versi putih emas.


Kakak Grace, Angie McPhee (37) mengatakan, "Ini gaun ibuku. Itu untuk pernikahan adik saya, Grace, di Colonsay." "Ibu mengirimkannya kepada Grace untuk mendapatkan komentar. Foto itu dikirim kepada saya dan Grace mengatakan 'Kenapa dia memakai putih dan emas untuk pernikahan?" 
Angie melanjutkan, "Awalnya saya melihatnya putih dan emas. Grace melihatnya sebagai putih dan emas, namun tunangannya melihat gaun tersebut sebagai biru dan hitam'. Dia melanjutkan, "Gaun itu sebenarnya biru dan hitam." 


Ian Johnson dari Roman Originals mengatakan, persediaan baju tersebut habis dalam 30 menit karena menjadi trending topic di internet dan mereka segera memproduksinya kembali. Roman mencatat bahwa pasca perdebatan tersebut, penjualan mereka melonjak sebesar 347 persen gara-gara banyak orang yang ingin melihat langsung wujud dari gaun biru hitam mereka. Sejumlah pelanggan yang melihat-lihat di website Roman akhirnya juga terpancing untuk melihat koleksi gaun lain, dan akhirnya membeli produk-produk Roman selain gaun tersebut. 
Atas adanya perdebatan, pihaknya berencana membuat versi putih dan emas untuk memuaskan kedua belah pihak.


BAGAIMANA BISA TERJADI?

Ulasan di situs Wired, Jumat (27/2/2015), menunjukkan bahwa dasar munculnya perbedaan itu adalah mekanisme penglihatan manusia dan pengaruh cahaya Matahari pada siang hari terhadap penentuan warna.

Lebih jauh, pakar lain dari the Colour Group of Great Britain, Andrew Hanson mengemukakan bahwa setiap manusia telah terprogram untuk melihat objek yang berada di dalam bayangan adalah biru, di mana sumber cahaya tersebut berasal dari langit, bukan langsung dari Matahari.
Cahaya yang ada di alam menempa sebuah benda, memantul, kemudian menuju mata manusia. Retina manusia menangkap cahaya yang datang dengan panjang gelombang tertentu. Selanjutnya, rangsangan akan diterima saraf mata, diproses di korteks penglihatan pada otak.

Otak akan menerjemahkan warna berdasarkan panjang gelombang cahaya yang ditangkap retina. Sebagai contoh, panjang gelombang 440-495 nanometer akan diterjemahkan sebagai warna biru.

Seharusnya, warna yang manusia tangkap dan terjemahkan adalah warna sejati dari sebuah benda. Namun, Jay Neitz, ahli saraf dari University of Washington, mengatakan bahwa yang terjadi tak selalu begitu.


Menurut dia, akibat cahaya matahari atau sinar lampu, manusia kadang menangkap warna benda berbeda dari aslinya. Satu individu bisa menangkap warna berbeda dengan individu lain akibat iluminasi cahaya tersebut. 

Bevil Conway, ahli neurologi dari Wesley College, juga mengatakan hal yang sama. Cahaya kemerahan fajar, birunya langit pada siang hari, serta jingga pada senja memengaruhi warna yang ditangkap manusia.

"Yang terjadi adalah orang berusaha mendiskon bias kromatis cahaya siang hari. Orang mungkin akan mendiskon warna biru sehingga mereka akan melihat (gaun) berwarna putih dan emas, atau mendiskon warna emas sehingga mereka akan melihat biru hitam," katanya.


Kasus perdebatan tentang warna gaun kali ini, menurut Neitz, wajar. Namun, dia juga mengatakan, "Saya telah mempelajari perbedaan individu dalam melihat warna selama 30 tahun, dan ini adalah salah satu perbedaan terbesar yang saya temui."

Neitz dan Conway sendiri beda pendapat tentang warna gaun tersebut. Neitz melihatnya berwarna putih dan emas, sementara Conway melihatnya memiliki warna biru dan oranye.
Neil Harris, editor foto senior dari Wired, berusaha mengakhiri perdebatan tentang warna gaun dengan melakukan analisis warna. Dia, yang awalnya berpikir bahwa gaun itu berwarna putih emas, lantas terkejut.

Ketika Harris melakukan proses white balancing pada gambar, dia mengetahui bahwa warna putih yang dilihatnya sebenarnya adalah biru. Hal tersebut menurutnya sebenarnya tidak masuk akal.

Sementara itu, ketika dia melakukan balancing pada warna paling gelap, gaun tampak berwarna biru hitam. Bagian yang paling gelap pada gaun tersebut ternyata memiliki warna hitam menurut analisis Harris.

Dengan analisis itu, Conway mengungkapkan, "Kebanyakan orang akan melihat biru pada latar putih sebagai biru. Namun, pada latar hitam, orang akan menyangkanya sebagai warna putih."

Conway menduga, persepsi warna putih emas mencerminkan penglihatan terhadap gaun tersebut pada lingkungan dengan sinar matahari yang sangat terang. Secara bercanda, dia berkata, "Saya bertaruh, burung hantu akan melihatnya sebagai biru dan hitam."

Jadi, lanjut dia, ketika seseorang melihat awan atau langit yang disinari cahaya Matahari, warnanya tampak kebiruan. Dan inilah alasan mengapa gaun 'kontroversial' tersebut lebih tampak berwarna biru ketimbang putih.


"Kita semua menyimpan warna-warna dalam memori kita. Dan perdebatan ini tak ada kaitannya dengan buta warna. Ini bisa terjadi karena persepsi warna. Pada dasarnya ini adalah ilusi ketika orang melihatnya berwarna putih, padahal itu tidak benar-benar ada," papar Andrew Hanson, seperti dilansir Telegraph.

 Masalah persepsi warna banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang coba tebak, apa warna telur asin yang banyak dijual di pasaran? Apakah hijau atau biru?

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------
See..
Ini benar2 amazing!!
Sebenarnya hal paling menarik dari kejadian ini bukanlah "apakah sebenarnya warna gaun ini?", tapi "Bagaimana ini bisa terjadi?"

Bagaimana retina mata kita ternyata memiliki bias dan unsur yg berbeda2.
Dari contoh kecil ini saja kita bisa belajar dan menyadari, bahwa betapa memang Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, bahkan cara melihat dunia (dalam hal ini 'dunia' terpetak menjadi dua) saja sudah berbeda. 
Dan sungguh TIDAK ADA YANG SALAH. Yang ada hanya memang mata kita melihat dengan caranya sendiri sesuai kemampuannya.
Diperdebatkan sampai kematian menjemput pun tak kan pernah selesai.
Sungguh.. ada banyak hal d dunia yg tdk bs diperdebatkan, karena cara mata dan otak kita bekerja memang berbeda. Dan tidak ada yg salah, karena Tuhan menciptakannya demikian.
Ini benar2 luar biasa
Peace on Earth.
 link: http://m.nydailynews.com/news/national/woman-posted-dress-blue-article-1.2131402



 

renatashopshop Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting